KDM Blog

Businesscourse

Entrepreneurial skills are so important for these kids. So we decided to do a business course. I, Saida el Hairan, a dutch volunteer set up and taught the course. This course consisted of 3 classes. Ultimately the kids would start up their own business with Rp.10.000 startup money.

2014-02-17 17.05.22

The first meeting was all about creativity and finding opportunities in hidden corners. Because every succesful business starts with an unique idea. Inspired by Kyle MacDonald, who traded up from a paperclip to a house within a year, the children got a paperclip to see what they would come up with. Here’s the result:

2014-02-14 20.52.49

Masdi was the great winner who ended up with speakers and a handphone without a battery. Mario won second place, he ended up with a pair of jeans and glue. The tird place went to Suharti, who ended up with a mini harmonica and a KDM calendar. They won respectively: Rp.10.000, Rp.5.000 and Rp.3.000 to start up their business. We had a few interesting cases as well. Some kids traded their item for food or money and ate/spent it all. So they had nothing to show for because of an impulsive decision. A great lesson right there. Other kids lost their item because it got stolen, so we had another lesson about security.

The second meeting was all about their business. During the second meeting the kids filled in their businessplan. They had to think about their unique selling point and why they would be profitable. All of the kids decided to team up and we ended up with 3 businesses. Mario and Iyuz started up Washking, they are washing cars and motorbikes. Suharti, Jessica, Emma and Filipi decided to sell homemade cookies and bracelets made from recycled material. The last group consisted of Dian, Priyanto and Masdi. They sold donuts and they gave a free 2 minute massage with every donut!

In the last meeting we will evalauate their businesses. As a reward we will double their profit!

Special thanks to: Beny, Gracia, Roni and Andik!

(Written by Saida el Hairan, March 6th 2014)

Dian and Priyanto with their startup money

Dian and Priyanto with their startup money

Mario and Iyuz washing the motorbike of their first client

Mario and Iyuz washing the motorbike of their first client

Print Friendly
Posted in Entrepreneur, Uncategorized | Leave a comment

Lembaga Sosial Perlu Ubah Paradigma

Ubah Paradigma dari Pelayanan Anak menjadi Perlindungan Anak
JAKARTA – Standar Nasional Perlindungan Anak (SNPA) sulit diterapkan jika paradigma lembaga sosial, termasuk panti asuhan tidak berubah. Lembaga-lembaga sosial dan panti-panti yang bekerja untuk anak harus mengubah paradigmanya dari pelayanan anak (child services) menjadi perlindungan anak (child protection). Ketua Pengurus Kampus Diakonia Modern (KDM), Benyamin Lumy, mengatakan hal ini kepada SH, Senin (3/3) pagi.

Ia mencontohkan adanya kekerasan di Panti Asuhan Samuel, Tangerang, Banten, yang mulai terungkap 11 Februari 2014, menurut Benyamin, menunjukkan paradigma panti-panti belum berbasis perlindungan anak. Basis perlindungan anak, ia melanjutkan, lebih luas dari sekadar pelayanan anak karena mencakup pemenuhan seluruh hak anak. “Pengetahuan tentang pentingnya pemenuhan hak anak tersebut yang dapat mencegah terjadinya kekerasan, eksploitasi, dan penelantaran anak di lembaga-lembaga sosial,” kata Benyamin.

Prinsip perlindungan anak dan pemenuhan hak anak mengacu pada Konvensi Hak Anak (KHA) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang terbit pada 20 November 1989 dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) yang disahkan pada 2002. Sayangnya, ujar Benyamin, banyak lembaga pelayanan anak tidak memahami dan bahkan ada yang tidak tahu tentang KHA dan UU PA. “Mereka menjalankan kegiatannya atas dasar pengalaman religius dan belas kasih. Itu tidak cukup,” ujar Benyamin.

Perlu Peraturan Daerah
Benyamin juga menekankan lembaga-lembaga sosial belum memiliki paradigma perlindungan anak karena para penyelenggaranya tidak tahu atau tidak paham mengenai KHA dan UUPA. Untuk itu, ia menyarankan lembaga-lembaga yang bekerja untuk anak perlu memiliki kebijakan perlindungan anak (KPA). Kebijakan ini harus dapat menjadi acuan dan rambu-rambu bagi lembaga dalam menjalankan kegiatan/program kerjanya.

“KPA harus mengacu pada KHA dan UUPA serta sesuai konteks kegiatan lembaganya,” kata Benyamin memberi saran.

Menurutnya, basis perlindungan anak ini juga akan berpengaruh pada proses rekrutmen staf, pengurus, maupun relawan. “Rekrutmen staf, pengurus, dan relawan harus dilakukan secara sungguh-sungguh agar benar-benar bisa melindungi anak dari orang-orang yang punya niat tidak baik,” tutur Benyamin.

KPA, kata dia, tidak cukup hanya mencakup KHA dan UUPA. Pasalnya, KHA merupakan pedoman perlindungan hak anak di tingkat dunia, sedangkan UUPA di level negara. Sebaiknya, kata Benyamin, di level pemerintah daerah ada peraturan daerah perlindungan anak dan di level lembaga/institusi ada KPA. KPA ini harus dimiliki semua lembaga yang menangani anak.

Lingkungan Terkecil
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, mengatakan pemenuhan hak-hak anak harus dipahami masyarakat di lingkungan terkecil, RT/RW. Menurutnya, ketimbang membuat sistem baru, masyarakat dapat menggunakan sistem yang sudah dibangun sejak lama, yakni sistem keamanan lingkungan (siskamling). “Siskamling seharusnya dapat dimanfaatkan untuk melindungi anak,” tutur Arist kepada SH baru-baru ini.
Pengurus RT/RW, kata Arist, harus mendapat pembekalan pengetahuan yang cukup supaya mereka mampu mengintervensi masyarakat yang memiliki kecenderungan melakukan tindak kekerasan terhadap anak.

Arist mengingatkan, pada 2014, perhatian masyarakat akan tersedot ke kegiatan politik sehingga hak anak rawan makin terabaikan. Ia menambahkan saat ini hak anak harus menjadi perhatian khusus.

Sumber : Sinar Harapan (http://www.sinarharapan.co/news/read/33281/lembaga-sosial-perlu-ubah-paradigma)

Print Friendly
Posted in Jakarta, Uncategorized | Leave a comment

Panti Asuhan sebagai Lembaga Perlindungan Anak

Oleh Benyamin Lumy

Lingkungan sosial mempengaruhi proses tumbuh kembang seorang anak. Apa yang dialami oleh seorang anak akan mempengaruhi perkembangan otak serta membentuk kepribadiannya. Dorothy Law, seorang pendidik dan ahli konseling keluarga, dalam bukunya yang berjudul Children Learn What They Live: parenting to inspire values, menulis sebuah puisi ”Children Learn What They Live”, mengingatkan kita bahwa anak belajar dari kehidupannya.
Pemberitaan media tentang kejadian yang dialami oleh anak-anak Panti asuhan Asuhan Samuel membuat banyak orang prihatin, sedih dan marah. Kejadian yang dialami oleh 37 anak di P.A Samuel merupakan sebuah pembelajaran hidup bagi anak yang akan membentuk kepribadian mereka. Namun perlu kita ketahui, saat ini, lebih dari 160.000 anak tinggal dan ada sekitar 8000 panti asuhan di Indonesia. Apakah mereka bernasib serupa atau bahkan mungkin lebih buruk lagi ?
Hasil penelitian Kementerian Sosial, Save the Children dan UNICEF pada tahun 2006 dan 2007 terhadap 37 panti asuhan di 6 provinsi, memberikan gambaran yang komprehensif tentang kualitas pengasuhan dalam panti asuhan di Indonesia, sebagai berikut:
1. Panti asuhan Asuhan lebih berfungsi sebagai lembaga penyedia akses pendidikan daripada sebagai lembaga alternatif terakhir pengasuhan anak yang tidak dapat diasuh oleh orangtua atau keluarganya.
2. 90% anak yang tinggal di panti asuhan masih memiliki kedua orangtua dan dikirim ke panti asuhan dengan alasan utama untuk melanjutkan pendidikan.
3. Karena lebih dominan sebagai penyedia akses pendidikan, mengakibatkan anak harus tinggal lama di panti asuhan sampai lulus SLTA dan harus menjalani pembinaan daripada pengasuhan yang seharusnya mereka terima dari orangtuanya.
4. Pengurus panti asuhan tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang situasi anak yang seharusnya diasuh di dalam panti asuhan dan pengasuhan yang idealnya diterima anak.

Dari penelitian tersebut, jelas bahwa banyak hal yang harus dibenahi oleh panti asuhan-panti asuhan di Indonesia, agar anak-anak di dalam panti asuhan bisa mendapatkan perlindungan dan terpenuhi hak dasarnya sebagai anak. Penelitian tersebut juga mendorong pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia/PERMENSOS Nomor: 30/HUK/2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. Permensos ini harus menjadi acuan bagi panti asuhan-panti asuhan di Indonesia untuk menjalankan kegiatannya.
Kejadian di Panti asuhan Asuhan Samuel harus menjadi pelajaran agar tidak terjadi lagi di panti asuhan yang lain. Ada 4 hal pembelajaran dari kasus ini, baik bagi pengurus lembaga kesejahteraan sosial anak/panti asuhan, pemerintah maupun masyarakat, yaitu:
1. Merubah Paradigma Pelayanan Anak menjadi Perlindungan Anak.
Semua lembaga yang bekerja untuk anak harus memiliki paradigma yang kuat ttg perlindungan anak karena pelayanan anak sendiri merupakan elemen dari upaya memberikan perlindungan kepada anak. Perubahan paradigma ini akan membuat lembaga yang bekerja untuk anak tidak lagi berfokus pada kebutuhan anak (need based) tetapi pada pemenuhan hak-hak anak (rigths based) sebagaimana yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak PBB, Undang-undang nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-undang nomor 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Paradigma Perlindungan Anak tidak hanya harus dimiliki oleh pengurus panti asuhan tetapi setiap kelompok dan orang yang memberikan perhatian kepada anak-anak di panti asuhan, harus pula memiliki paradigma dan kesadaran tentang perlindungan anak. Dengan demikian, kerjasama antara pengurus panti asuhan dan masyarakat yang memberikan perhatian kepada panti asuhan bisa memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak secara optimal. Misalnya pada setiap kunjungan ke panti asuhan untuk memberikan bantuan, masyarakat bisa sekaligus melakukan pengawasan terhadap pengelolaan panti asuhan. Tanpa paradigma perlindungan anak, masyarakat terjebak pada pelayanan “santa klaus” yang hanya memperhatikan kebutuhan fisik dan tidak holistik.
Pengalaman religius, motivasi yang kuat dan niat baik karena belas kasihan pada anak-anak yang diterlantarkan oleh orangtua tidak cukup menjadi alasan dan dasar dari pendirian panti asuhan/lksa, maupun aksi kunjungan ke panti asuhan. Kesadaran tentang paradigma perlindungan anak, pengetahuan dan pemahaman tentang KHA, UU PA dan UU HAM menjadi suatu yang mutlak dimiliki oleh setiap orang yang akan bekerja dengan anak.

2. Memperbaiki manajemen panti asuhan/lembaga kesejahteraan sosial anak.
Ada 6 hal yang perlu diperhatikan untuk memperbaiki manajemen panti asuhan, yaitu: Pertama, Kebijakan Perlindungan Anak/KPA. Paradigma Perlindungan Anak harus menjadi dasar perbaikan manajemen panti asuhan. Agar paradigma perlindungan anak bisa diimplentasikan dalam kegiatan dan pengeloaan panti asuhan, maka setiap panti asuhan wajib memiliki Kebijakan Perlindungan Anak yang mengacu pada KHA, UU PA, UU HAM dan sesuai dengan karakteristik panti asuhan. KPA akan menjadi acuan dan rambu-rambu dalam seluruh kegiatan dalam panti, sekaligus sebagai sebuah bentuk komitmen nyata untuk melindungi anak dan memperjuangkan pemenuhan hak anak.
Kedua, Standar pengasuhan. Standar pengasuhan merupakan suatu acuan bagi pengurus dan staff dalam upaya memberikan pelayanan terbaik bagi anak, mulai dari proses penerimaan anak, proses pengasuhan anak, sistem pengawasan dan sistem evaluasi di dalam panti asuhan. Standar pengasuhan yang tertulis dapat membantu panti asuhan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak, karena tanpa sebuah standar, pelayanan yang diberikan akan tergantung pada kebijaksanaan dan “suasana hati” pengurus saja. PERMENSOS Nomor: 30/HUK/2011 merupakan panduan untuk standar pengasuhan di panti asuhan.
Ketiga, Standar fasilitas. Fasilitas merupakan hal penting dalam pendirian dan pengelolaan panti asuhan. Fasilitas yang asal-asalan, jumlah anak melebihi kapasitas dan tanpa standar minimal akan beresiko bagi anak. Merek rentan mengalami kekerasan, pelecehan dan kecelakaan. Misalnya anak menjadi tertekan karena tidak bisa bermain, konflik antar anak kerap terjadi akibat berebut fasilitas, timbul penyakit akibat lingkungan yang tidak sehat dan anak menjadi tidak betah didalam panti asuhan.
Keempat, Manajemen Kasus. Penanganan kasus yang tepat dan cepat akan memberikan rasa aman dan anak-anak pun merasa diperhatikan. Memahami psikologi perkembangan anak, memiliki keterampilan mengasuh anak (parenting skill) dan pengetahuan tentang metode pekerjaan sosial merupakan pengetahuan minimal yang harus dimiliki oleh pengurus dan staff panti asuhan.
Kelima, Akuntabilitas panti asuhan. Meningkatkan akuntabilitas panti asuhan menjadi hal penting dalam upaya memperbaiki manajemen panti asuhan. Program kerja yang jelas, assessment kebutuhan yang baik, pengunaan keuangan yang tepat dan pelaporan yang baik menjadi bagian penting untuk meningkatkan akuntabilitas.
Keenam, Manajemen relawan dan donatur. Panti asuhan biasanya menggunakan badan hukum yayasan. Menurut UU no 16/2001 tentang Yayasan, yayasan merupakan lembaga publik bukan milik perorangan, sehingga keterlibatan masyarakat, baik sebagai relawan maupun donatur merupakan hal yang mutlak. Pengurus panti asuhan harus terbuka terhadap setiap orang yang ingin terlibat membantu anak-anak di dalam panti asuhan. Namun untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak, perlu sebuah manajemen relawan dan donatur yang baik, agar kehadiran relawan dan donatur bisa memberikan dampak positif terhadap perlindungan anak dan pemenuhan hak anak. Keterbukaan terhadap kehadiran relawan dan donatur merupakan salah satu hal penting untuk meningkatkan akuntabilitas lembaga.

3. Meningkatkan partisipasi masyarakat.
Partisipasi masyarakat berperan penting untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak di dalam panti asuhan. Partisipasi masyarakat bukan hanya sekedar datang, berkunjung dan memberikan sumbangan saja, tetapi juga partisipasi dalam pengawasan dan peningkatan upaya perlindungan anak dan pemenuhan hak anak di dalam panti asuhan, antara lain dengan cara: membantu meningkatkan manajemen pengasuhan, membantu pengembangan jaringan serta meningkatkan aksesibilitas anak terhadap layanan yang harus didapatkan seperti kesehatan dan pendidikan.
Partisipasi masyarakat selama ini terhadap panti asuhan masih sangat minim dan hanya diartikan sempit dalam bentuk pemberian sumbangan. Banyak hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk berpartisipasi, seperti menjadi konselor, pengajar untuk mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah dan bermain bersama anak. Namun yang paling penting adalah kita memberikan diri untuk menjadi SAHABAT anak-anak yang tinggal di panti asuhan.

4. Merubah persepsi masyarakat.
Cara masyarakat memandang panti asuhan berkontribusi terhadap pola manajemen panti asuhan. Persepsi masyarakat yang membedakan “Panti Kaya” dan “Panti Susah”, cenderung memihak dan membantu “Panti Susah”. Akibatnya beberapa pengurus panti asuhan tidak berusaha memberikan fasilitas terbaik dan layak untuk anak-anak di dalam panti asuhan. Kondisi prihatin dianggap dapat membangun rasa belas kasihan sehingga sumbangan tetap mengalir. Sebaliknya, kondisi panti asuhan yang tertata baik dengan fasilitas memadai dianggap “Panti Kaya”. Masyarakatpun berhenti membantu karena sudah dianggap cukup dan “kaya”.
Persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi akan lebih baik jika masyarakat juga melihat dari sisi pengelolaan/manajemen panti asuhan. Kondisi panti asuhan yang tertata baik, memiliki program kerja yang jelas, memiliki standar pengasuhan yang baik dan memiliki fasilitas memadai serta kondisi tumbuh kembang anak yang baik, menunjukan akuntabilitas yang baik dan bisa dipercaya. Panti asuhan seperti ini mengelola bantuan dengan penuh tanggungjawab dan memberikan dampak positif bagi anak. Masyarakat patut untuk terus mendukung panti asuhan seperti ini. Dengan demikian panti asuhan yang tidak menjalankan amanahnya, tidak memberikan perlindungan terhadap anak dan tidak sungguh-sungguh mengupayakan pemenuhan hak anak, akan mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat sehingga tidak lagi mendapat dukungan.

5. Meningkatkan sistem pengawasan dan pembinaan panti asuhan/lembaga kesejateraan sosial anak.
Pemerintah berperan penting dalam pengawasan dan pembinaan, mulai dari tingkat pusat (Kementerian) hingga tingkat terendah (Desa/Kelurahan). Pemerintah memiliki infrastruktur pengawasan dan pembinaan yang sangat mendukung. Permasalahannya adalah bagaimana sistem koordinasi dan komunikasi antara pusat dengan daerah dan antar instansi terkait, serta berapa besar perhatian dan tanggungjawab setiap instansi terkait terhadap pengawasan dan pembinaan panti asuhan. Tanpa adanya kerjasama dan koordinasi yang baik serta perhatian serius dari setiap instansi terkait, maka upaya perlindungan anak dan pemenuhan hak anak di dalam panti asuhan melalui manajemen panti asuhan yang baik, sulit kita harapkan. Kasus-kasus seperti yang terjadi di P.A Samuel akan sangat mungkin terjadi kembali.
Jika benar apa yang terjadi di P.A Samuel, kita semua punya andil dalam masalah itu. Dalam UU Perlindungan Anak, Pasal 20, dikatakan bahwa “Negara, Pemerintah, Masyarakat, Keluarga dan Orang Tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan Perlindungan Anak”, sehingga jauh yang lebih penting bagi kita saat ini, untuk membangun kesadaran tentang perlindungan anak dan bergandengan tangan memperbaiki manajemen panti asuhan yang ada disekitar kita, karena anak-anak di panti asuhan adalah Mahluk Ciptaan Tuhan yang mulia dan berharga, Sahabat kita dan Anak kita – Anak Indonesia !

Print Friendly
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kegiatan Anak Bulan Januari 2014| Children’s Activities in January 2014

Tim Rangon Futsal Akademi (RFA) meneruskan perjalanan mereka di liga AAFI. Mereka masih berada di 3 besar. Anak-anak kalah di pertandingan ke-3 meskipun mereka bermain sangat baik. Selain pengalaman ini, impian untuk bergabung dengan tim Indonesia GARUDA BARU pada Piala Dunia Anak Jalanan atau Street Child World Cup (SCWC) 2014, adalah motivasi terkuat mereka untuk terus berlatih di tiap hari Senin dan Kamis. Pada tanggal 1 Februari akan ada audisi pememilihan anggota tim Indonesia GARUDA BARU yang akan berkompetisi pada seleksi pertama untuk SCWC yang akan berlangsung pada bulan Maret 2014. Kami berharap beberapa anak-anak dari KDM dapat bergabung dengan tim tersebut dan mewakili Indonesia di SCWC, di Rio de Janeiro, Brazil. Untuk informasi lebih lanjut mengenai SCWC silahkan kunjungi website www.streetchildworldcup.org.

Bulan ini terasa lebih istimewa karena teman kita, Lauri dan Anne dari Stichting Chance to Dance telah kembali di KDM dan meluangkan waktu mengajar beberapa gerakan tarian baru. Anak-anak sangat senang menerima mereka kembali dan bersama-sama mempersiapkan pertunjukan tari The Nutcracker yang ditampilkan dalam perayaan hari jadi Yayasan KDM ke-42 tangal 25 Januari lalu. Penampilan anak-anak KDM dilakukan dengan sangat baik dan banyak orang yang datang dan melihatnya, yaitu para tetangga, teman-teman, alumni, relawan, dan rekan yayasan. Anak-anak menampilkan The Nutcracker, flash mob, dan penampilan seni lukis “Mission Impossible”. Setelah melihat bagaimana mereka tampil, kami akan melanjutkan program tari dengan menyewa penari profesional untuk mengajar anak-anak.

Seni lukis “Mission Impossible” adalah sebuah ide dari Fitrajaya Nusananta, pengajar dan relawan untuk KDM Art Space. Anak-anak melukis di kanvas dengan panjang 12 meter dan tinggi 3 meter. Dengan musik pendukung, koreografi, percikan warna-warni cat di kanvas, kegiatan tersebut menjadi luar biasa. Anak-anak dan pengunjung terlihat senang dan terkejut dengan hasilnya. Bagi yang berminat untuk membeli atau membantu kami menggalang dana dengan melelang lukisan ini, dapat menghubungi Roni di nomor +62 818 0251 1506 atau email roni@kdm.or.id.

Di perayaan hari jadi Yayasan KDM ke-42, kami sangat bangga dengan dinyanyikannya lagu-lagu nasional Indonesia oleh anak-anak, di samping itu mereka menunjukkan beberapa tarian tradisional. Dengan tema “Kami Berharga, Kami Indonesia”, anak-anak bangga menunjukkan budaya Indonesia. Salah satunya adalah Rizky (13 tahun) yang memainkan lagu “Kampuang Nan Jauh di Mato”, sebuah lagu rakyat dari Sumatera Barat dengan alat musik piano. Perayaan tersebut menjadi hari yang luar biasa bagi kita semua.

Our futsal team (RFA) continues their journey in AAFI league. They are still in the top 3 of the group. We lost the third match though they played very well. These experiences and also the dream to join the ‘Indonesia GARUDA BARU’ team for Street Child World Cup (SCWC) 2014, is their strongest motivation to keep practicing every Monday and Thursday. On the 1st of February there is an audition to select the ‘Indonesia GARUDA BARU’ team who will compete in the first selection for the Street Child World Cup (SCWC) in March 2014. We are hoping that some of KDM children will be able to join the team and represent Indonesia in SCWC in Rio de Janeiro, Brazil. For further information about SCWC please visit the website www.streetchildworldcup.org

This month feels more special because our friends, Lauri and Anne from Stichting Chance to Dance are back at KDM and spent their time to give some new dancing moves to the children. The kids were so happy to have them back and we prepared the Nutcracker performance for KDM Anniversary on 25th of January. All of the KDM kids performed great and many people from our neighborhood, friends, alumni, volunteers, and our partners came. The kids performed The Nutcracker, a Flash Mob, and the “Mission Impossible” Art Performance. After seeing how they performed, we will continue the dance program by hiring professional dancer.

The “Mission Impossible” art performance is the idea of Fitrajaya Nusananta, KDM Art Space program trainer and volunteer. The children painted on a canvas of 12 meters long and 3 meters height. With good music, nice choreography, colorful paint splashing on the canvas, it was a fantastic show. All of the children and visitors were excited and surprised by the result. For those who want to buy or help us to raise a donation by doing an auction for these paintings, do not hesitate to contact Roni at mobile +62 818 0251 1506 or email roni@kdm.or.id.

On our 42nd Anniversary we were also very proud that the children sang Indonesia’s national songs, and then they performed traditional dancing. With the theme “We are Precious, We are Indonesia”, the children were proud to show Indonesian culture. One of our kids, Rizky (13 years old) played on the piano the “Kampuang Nan Jauh di Mato”, a West Sumatra folk song. The KDM 42nd Anniversary was a great day for all of us.

Print Friendly
Posted in Uncategorized | Leave a comment

“The Nutcracker”

A DREAM CAME TRUE

KDM "The Nutcracker"

 

 

 

 

 

 

 

Yesterday 77 children of KDM stood in The Erasmushuis in Jakarta to perform the Nutcracker!
Full house with 350 people in the audience, a television crew from SCTV Indonesia, journalists from the newspaper, speeches, photo’s and video’s and a lot of laughs and tears.
But above all, the performance couldn’t be better and the children were stars! We will never forget their proud smiles on stage.

Special thanks go out to; Sotar, Ibu Uut, Gracia, Roni, Beny, Ipung, Oma Frida, Andik, Ningrum, Vivin, Jessica, Natalia, Vera, Fitra, Desiree and Douwe.
And to all of the other staff of KDM for their support; Agus, Lena, Ecy, Wawan, Ely, Didit, Uly, Uting, Epin, Novan, Jenny, Farid, Ibu Siti, Agustina, Lenni, Dede, Yanto, Ibu Tini, Umi, Juan, Retno, Vero, Euis, Ridwan and Werkgroep ’72 for recommending KDM.

Without the limitless help and moral support of these people we would have never been able to reach this goal.

We would like to thank the Erasmushuis for making their theatre available for us and of course our donators for their generosity and financial support.

Our biggest admiration goes out to all of the children who participated in this project. Their positive energy and dedication made this an unforgettable experience!

Terimah kasih!!!

 

Written by Lauri and Anne (Stichting Chance to Dance), December 16th , 2013

Print Friendly
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KALENDER KDM 2013 “The Art of Street Children begins here”

Kalender KDM 2013

 

You can see some paintings and their story in KDM 2013 calendar “The Art of Street Children Begins Here”, which is all the work of children in the KDM. The purpose of this calendar is to support the education of street children in Jakarta, as well as an appreciation of the children studying KDM.
This calendar design is 100% work of former street children who live and study in KDM.

You can also find rescue cards inside the calendar. A card includes the address of KDM, which can be shared with friends of street children so that they can get the KDM service if they need help.
When you meet street children, you can give those snacks, milk, cookies and rescue card in additional. By doing this, you have contributed to our campaign “Stop Giving Money.” Because the money given in the street will bring the child into the dangerous conditions and exploited.

If you do not mind, you can help with the purchase, help sell calendars and share this information to other friends.

Thank you.

————————————————————————————————————————————————-

Kalender KDM tahun 2013 bertema “the art of street children begins here”. Kalender ini memuat seluruh hasil lukisan beserta kisahnya, yang merupakan karya anak-anak di KDM. Tujuan Yayasan KDM menerbitkan kalender ini untuk mendukung pendidikan anak-anak jalanan di jakarta, sekaligus sebagai apresiasi dari anak-anak yang belajar di sekolah asrama Pd Gede.
Isi hingga design kalender ini – 100% adalah karya mantan anak-anak jalanan yang tinggal dan belajar di asrama KDM.

Di dalam Kalender, terdapat kartu rescue, kartu yang berisi alamat KDM, yang bisa teman-teman bagikan kepada anak-anak jalanan agar mereka bisa mendapatkan pelayanan KDM jika mereka suatu saat memerlukan pertolongan.
Ketika teman-teman bertemu anak jalanan, anda bisa memberikan makanan ringan, susu, kue dan memberikan juga kartu rescue sebagai hadiah tambahan.
Dengan melakukan hal ini, anda telah turut mendukung gerakan ” Stop Memberi Uang kepada Anak di Jalan “, karena uang yang diberikan di jalan, akan membawa anak masuk dalam kondisi yang berbahaya dan tereksploitasi.

Jika tidak keberatan, teman-teman bisa bantu dengan membeli, membantu menjualkan kalender dan menyebarkan informasi ini juga ke teman-teman yang lain.

Terima kasih.

Print Friendly
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Painting Collaboration


Painting Colaboration is a painting activity along with 100 street children and volunteers on a “Giant canvas” measuring 10 mx 2m, which will be guided by a professional painter.
This “giant painting” will be several “small paintings” which can be purchased by the volunteers and children observer, where the profit will be used to fight for the realization of the rights of street children, the right to quality education, the right to obtain birth certificates , the right to play, right to health, and the right to nutritious food.
This program invites the public to be a friend and give them creative attention and educate street children in Indonesia.
Through this program, the public are invited to stop giving money directly to children in the street, because it would bring street children into other forms of exploitation and situations that are prone to other forms of violence.
There are so many forms of attention can be given by the society, without having to give money directly to children in the street.
By not giving the money directly, we are poised to give protection to street children from all forms of violence and exploitation.
“Stop Giving Money, Give Us A Chance”


Painting Collaboration


Art Space



Painting Collaboration


KDM Art Space

The ´Entrepreneurship Program´ within KDM (Kampus Diakoneia Modern) is run-ning. KDM wants to create an environment where children can experiment with entrepreneurial behavior and activities. The goal of the ´Entrepreneurship Program´ is to enable street children to create and set up their own projects.
KDM is very enthusiastic about their Art Space. Now in the “KDM Art Space” they are focused on a painting project where 10 to 15 children contribute every day, under supervision of Mr. Fitrajaya Nusananta (a professional artist). For fundraising, they have sold four painting at ´JIS Peduli´ and one painting at the ´Orange Ball´ auction. Now the children are creating their own gallery. On the 13 of June is the opening. So if you are interested to pursue one of these unique former street children token, please come to our gallery or view more online .


Novan's picture



Art Class



Art Class

Print Friendly
Posted in Entrepreneur | Leave a comment

KDM 40th Anniversary Address, by Juliana Roe (volunteer and friend of KDM)

Selamat pagi ibu2, bapak2, alumni, dan ANAK-ANAK!

My husband and I have been involved with KDM for 11 years and it’s an enormous pleasure for us to be here with you this morning and to join in celebrating KDM’s 40th anniversary!

As I look out into your faces, I see many countries and many backgrounds represented… and I ask myself, aside from our love for KDM, what do we all have in common?

We were all children at one time.  As children, we had dreams and the seeds of greatness within us.

What were your dreams?  Who helped you along the way?

As we know, not all children are supported and nurtured equally.  Not all children are encouraged to fulfill their dreams.  Without love and encouragement, without nurturing and guidance, our seeds of greatness never grow or achieve their full potential.

KDM has succeeded in creating a truly transformative space for street children.  This transformative space is:

– about creating a new reality;
– about expanding the children’s reality by expanding what they see as their choices in this world;
– about children in need moving from survival mode to development mode;
– about providing these children with love and family and encouragement;
– about providing the children with tools, skills, direction and support;
– about helping the children to gain self-empowerment as they also gain recognition of others as being worthwhile and valid individuals.

The stories in the 40th anniversary book are extraordinary examples of personal transformation and triumph.  These stories are told by children who have found their authentic voices and authentic power… they are stories of dreams beginning to take shape in reality.

All of us also, in being part of KDM and in becoming friends with the children, become transformed as well.

We also see that as the children learn and as their world broadens, they become the force – the power – that will change Indonesia one child at a time!

Print Friendly
Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

We celebrated 40th years anniversary of KDM


Opening Speech


Last Saturday we celebrated 40th years anniversary of KDM. Lots of fun stuff happened during the celebrations. The event begins with an art performance from the kids of KDM. They play traditional instruments such as percussion, and Angklung. Guests seemed to enjoy the performance. The event continued with a welcome speech by the director of the KDM. At the same time KDM launched new Vision and Mission.

In celebration of this anniversary, KDM provides the opportunity for some almuni to talk a little about themselves and how KDM influence their life. The event then continued with another performance by the children. This time they sing the song of North Sumatra, “Alusi Au” and some of them dance.


sing the song of North Sumatera Alusi Au


Angklung Player


The 40 years KDM Book launching becomes part of our anniversary celebration. We also give appreciation to the team that has been working together so that we can finish the book. We do not forget to give our appreciation to the parties or organization that has helped KDM so far.
Many guests did come and enjoy the show. They are also participating in the auction that is held for children KDM. Some children make artistic creations to be auctioned. A photographer, Hanneke Mennens, willing to donate her works to be auctioned. The main event is the cutting tumpeng (Indonesia’s traditional food). Guests are welcome to watch the activity in front of Rumah Senyum.

We would like to thank you for guests who participate and for the hopes and wishes too.


Appreciation for KDM's Partners



Sharing from Alumni KDM


Photo Exhibition



Potong Tumpeng



The 40 years Book



Auction Paper Quiling Painting

Print Friendly
Posted in News Update, Uncategorized | Leave a comment

A Place to Learn for the Future

Beny Lumy (Director KDM 2010 – present)


When a name is chosen, that name carries expectations for the owner’s future. Kampus Diakonia Modern (KDM) is a place for learning to all people who live and work (children, staff, volunteers and board). KDM is also a school of life which is not only gives knowledge, but also gives life experiences to form the character of every person in it.
One of my most unforgettable experiences is when I first joined KDM in 1993 when KDM was not only dealing with children, but also troubled families. One morning, I woke up hearing a noise that came from a couple who were fighting physically and yelling harsh, dirty words. I had to help them to solve their problems because I was near them. At that time, I was 18 years old and had absolutely no experience dealing with that kind of problem. I listened to their complaints and ask them to cool down, while I consulted with Mr. Lumy and my senior friends.

I’ve learned many things from every case that I faced during my 19 years in KDM and they’ve formed my character, one of them is daring to tackle problems and to have principle of life. There are three important lessons that I’ve learned from KDM:
1) vision and faith are very important in this life,
2) money and material things aren’t the most important things in life, instead the people that God has sent to be around us and become a part of our life is a wonderful grace,
3) faithfulness and obedience will produce something extraordinary.

I thought I’ve given a lot of things and helped the children and the people in need, but actually, they are the ones who have given a lot of things to me.

Thank you, KDM! Thank you, my friends! You all give many precious lessons to me.

Tempat Belajar Sepanjang Masa
“Nama” memiliki arti yang menggambarkan harapan masa depan untuk pemilik nama. Kampus Diakonia Modern (KDM) adalah tempat belajar sepanjang masa bagi orang yang tinggal dan bekerja (anak-anak, pegawai, sukarelawan dan pimpinan). KDM juga sekolah kehidupan yang mana tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga pengalaman hidup untuk membentuk karakter masing-masing orang.

Satu pengalaman yang tak terlupakan ketika pertama kali bergabung dengan KDM tahun 1993 ketika KDM tidak hanya berurusan dengan anak-anak tetapi juga keluarga bermasalah. Satu pagi, saya terbangun mendengar suara ribut dari pasangan yang berkelahi secara fisik, berteriak dan mengucapkan kata-kata kotor. Saya membantu menyelesaikan masalah karena saya ada di dekat mereka. Saat itu, usia saya 18 tahun dan tidak punya pengalaman dengan masalah seperti itu. Saya dengarkan keluhan mereka dan meminta mereka tenang, sementara saya konsultasi dengan Pak Lumy dan teman-teman senior.

Saya belajar banyak dari setiap kasus yang saya hadapi selama 19 tahun di KDM dan mereka membentuk karakter saya, salah satunya adalah berani mengatasi masalah dan memiliki prinsip hidup. Ada tiga pelajaran penting yang saya pelajari di KDM;
1) Visi dan keyakinan sangat penting dalam kehidupan,
2) Uang dan materi bukan yang paling penting dalam hidup, tetapi orang-orang yang Tuhan kirim disekitar kita dan menjadi bagian dari hidup kita adalah anugerah yang indah,
3) Ketaatan dan Kesetiaan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Saya pikir saya telah memberikan banyak hal membantu anak-anak dan orang yang membutuhkan, sebenarnya, merekalah yang memberikan banyak hal kepada saya.

Terima kasih, KDM! Terima kasih teman-teman! Kalian memberikan banyak pelajaran berharga.

Print Friendly
Posted in Staff | Leave a comment